Pui's Coffee
Tuesday, October 18, 2011
OUR FATHER PRAY
Our Father, who art in heaven,
hallowed be thy name;
thy kingdom come;
thy will be done on earth as it is in heaven.
Give us this day our daily bread;
and forgive us our trespasses
as we forgive those who trespass against us;
and lead us not into temptation,
but deliver us from evil.
For the kingdom, the power, and the glory are yours
now and for ever.
Amen.
hallowed be thy name;
thy kingdom come;
thy will be done on earth as it is in heaven.
Give us this day our daily bread;
and forgive us our trespasses
as we forgive those who trespass against us;
and lead us not into temptation,
but deliver us from evil.
For the kingdom, the power, and the glory are yours
now and for ever.
Amen.
Friday, October 14, 2011
Chapter 7
Aku melangkahkan kaki sambil membawa beberapa kantung plastik berisi barang-barang yang akan di bawa besok. Aku melihat ayah tengah mengusap-usap wajahnya sambil menuruni tangga. Kami pun berpapasan. Aku berpura-pura tidak melihatnya, kemudian ayah menyapaku
“baru pulang?”
“ya...” ucapku singkat
“ada apa, tadi mbok ani.... ?”
“ohh... iya tadinya ada yang mau ayah bicarakan, tapi ayah pikir tidak jadi saja.hari ini jangan tidur terlalu malam karena besok kamu akan pergi. Ayah akan bilang mbok ani untuk membantu menyiapkan barang-barang yang akan dibawa. Ayah juga akan mandi lalu istirahat. ”
“...”. aku merasakan agak sedikit aneh dengan sikap ayah kali ini. Tanpa banyak berpikir aku pun kembali melangkah dan memasuki kamar. Ia pun terduduk di atas tempat tidurnya.
“Dari mana ayah tahu jika aku belum menge-pack barang-barang?” tanya ku dalam hati.
“Apa mungkin....?”, aku melihat sekeliling tidak ada yang aneh dan berubah dari susunan barang di kamar ku.
Malam itu dengan di bantu mbok Ani aku menyiapkan segalanya. Kami berdua hanya terdiam sibuk dengan aktivitas masing-masing. Mbok ani membantu melipatkan pakaian dan memasukkan dengan rapih ke dalam koper, sementara aku menyiapkan surat-surat yang akan dibutuhkan untuk keberangkatan ku kesana. Aku memperhatikan mbok ani sembunyi-sembunyi, dan menemukan sebuah ketulusan yang terpancar dari wajahnya. Kemudian aku mulai kembali ingat dengan perlakuanku yang tidak sopan dengannya saat itu, aku menatapnya penuh penyesalan. Dan bertanya pada diriku sendiri mengapa aku melakukannya.
“nak lui...” ucap nya. Lamunanku buyar kala itu.
“... sedang melamun apa?”
“tidak ada..” jawabku dingin.
“nak lui, pasport ini mau disimpan di tas atau di pegang saja nanti?”
“biar saya pegang saja.” Kemudian mbok ani menyerahkan nya padaku. Aku mengambil sweater dari dalam lemari.
“di sana dingin ya?”
“tidak selalu dingin, di sana ada 4 musim. Ada musim gugur, semi, dingin, dan panas.”
“kalo pakai sweater saja, nak lui pasti masih terasa kedinginan. Bukannya di korea sekarang lagi sedang musim salju?”
“....” aku pun terdiam sambil berpikir. Akhirnya aku coba browsing dan mencari tahu sedang musim apa sekarang di korea. Aku tersenyum ketika membaca dan mendapatkan informasi, ternyata benar sekarang di korea sedang musim dingin. Cepat-cepat ku sembunyikan senyum itu.
“... mbok ani bener, tau dari mana kalo sekarang di korea lagi musim salju?” tanya ku sambil mengeluarkan mantel tebal dari dalam lemari.
“ya tau saja... ini mbok ani sudah masukkan beberapa mantel biar bisa ganti-ganti. Yang satu ini punya almarhum ibu nak lui. Nak lui pasti suka memakainya.”
Kami berdua kembali terdiam, aku menelan ludah ku sendiri menahan sesuatu yang berat ketika mendengar kata-kata mbok ani.
“terima kasih.”
“iya iya... hehehe... kemaren mbok juga buka internet makanya mbok tau kalo sekarang korea lagi musim salju. Minta di ajarin sama tetangga sebelah cara buka internet.”
“terima kasih.” Ucapku lagi
“nak lui...?” tanya mbok ani
“besok berangkat jam berapa?”
“dari rumah jam 8. Naik pesawat jam 9.” Jawabku seperlunya
“ohhh... nak Lui?” tanya nya lagi, aku menatapnya lagi menunggu pertanyaan apa lagi yang akan ia katakan.
“mmm... apa nak Lui akan kembali ke Indonesia?”
“Saya tidak tahu. Gimana nanti saja.”
“Mbok pasti akan kangen sekali sama nak Lui. Nanti jangan lupa sama mbok ya...”
“Mana mungkin saya lupa sama mbok.” Ucapku kembali sibuk dengan aktivitas lain.
“............................”
Terdengar sesungguk dari arah mbok Ani aku pun menoleh ke arahnya, namun mbok ani terlihat menyembunyikannya dan kembali melipat pakaianku. Aku beranjak dari tempat aku duduk dan mengambil kotak tisu dari meja lalu menyodorkannya pada mbok ani.
“..... terima kasih nak Lui.”
“mbok kenapa nangis?” tanya ku sambil meletakkan kotak tissu di depan mbok ani. Dan membereskan barang-barang lain yang akan dibawa.
“mbok nangis bahagia dan bangga karena nak Lui akhirnya bisa mencapai apa yang nak Lui inginkan selama beberapa tahun ini. Nak Lui itu pinter sekali sampai bisa sekolah keluar negeri, keponakan mbok sekolah di sini saja haduuuhhh ... sudah susah apa lagi ke luar negeri. “
“hanya gara-gara itu mbok nangis?” tanya ku lagi.
“iya maafin mbok ya, mbok memang sedikit cengeng. Maaf jadi ngerepotin nak Lui. Tissu nya nak lui jadi habis sama mbok.“
“di laci masih banyak..”
“..............”
“nak lui... mbok minta maaf, mbok tadi bohong sama nak lui, sebenernya mbok sedih karena nak Lui akan pergi jauh sekali. Rumah ini pasti akan sepi sekali. Dan mbok akan rindu sekali sama nak lui...”
“Ada saya di sini pun, rumah ini memang sudah sepi..”
“..... mbok ga usah berlebihan, sekarang udah zaman teknologi. Katanya udah bisa pake internet. Ada handphone juga. Kalo ada sesuatu bisa komunikasi lewat internet atau handphone.”
“ohh... yang nama fesbuk sama tuiter itu ya? Iya deh ntar mbok minta ajarin lagi sama tetangga sebelah cara pake fesbuk.”
“pake email aja mbok. Kalo sempet nanti saya balas, pesan dari mbok.” Jawabku datar.
“oh gitu ya... email ya namanya.” Ucap mbok ani, kepalanya sambil naik turun berusaha mengingat kata.
“hmm.. perlu tissu lagi?”
“ohh ndak usah, mbok udah ga terlalu sedih lagi.”
“semuanya sudah beres... apa ada lagi yang belum nak lui?” tanya mbok ani
“saya rasa juga sudah.“ jawab ku
“kalo begitu mbok permisi dulu. Kalo ada apa apa panggil saya saja..” kata mbok ani sambil menutup pintu kamar.
“terima kasih.” Kata itu terucap dari bibir ku tapi tak sempat terdengar oleh mbok ani yang sudah keburu menutup pintu dengan rapat.
....
“kembali kasih nak Lui. Mbok denger ko...” ucap wanita tua itu dalam hati dari balik pintu sambil tersenyum kemudian pergi dari situ dengan terburu-buru menuruni tangga.
“baru pulang?”
“ya...” ucapku singkat
“ada apa, tadi mbok ani.... ?”
“ohh... iya tadinya ada yang mau ayah bicarakan, tapi ayah pikir tidak jadi saja.hari ini jangan tidur terlalu malam karena besok kamu akan pergi. Ayah akan bilang mbok ani untuk membantu menyiapkan barang-barang yang akan dibawa. Ayah juga akan mandi lalu istirahat. ”
“...”. aku merasakan agak sedikit aneh dengan sikap ayah kali ini. Tanpa banyak berpikir aku pun kembali melangkah dan memasuki kamar. Ia pun terduduk di atas tempat tidurnya.
“Dari mana ayah tahu jika aku belum menge-pack barang-barang?” tanya ku dalam hati.
“Apa mungkin....?”, aku melihat sekeliling tidak ada yang aneh dan berubah dari susunan barang di kamar ku.
Malam itu dengan di bantu mbok Ani aku menyiapkan segalanya. Kami berdua hanya terdiam sibuk dengan aktivitas masing-masing. Mbok ani membantu melipatkan pakaian dan memasukkan dengan rapih ke dalam koper, sementara aku menyiapkan surat-surat yang akan dibutuhkan untuk keberangkatan ku kesana. Aku memperhatikan mbok ani sembunyi-sembunyi, dan menemukan sebuah ketulusan yang terpancar dari wajahnya. Kemudian aku mulai kembali ingat dengan perlakuanku yang tidak sopan dengannya saat itu, aku menatapnya penuh penyesalan. Dan bertanya pada diriku sendiri mengapa aku melakukannya.
“nak lui...” ucap nya. Lamunanku buyar kala itu.
“... sedang melamun apa?”
“tidak ada..” jawabku dingin.
“nak lui, pasport ini mau disimpan di tas atau di pegang saja nanti?”
“biar saya pegang saja.” Kemudian mbok ani menyerahkan nya padaku. Aku mengambil sweater dari dalam lemari.
“di sana dingin ya?”
“tidak selalu dingin, di sana ada 4 musim. Ada musim gugur, semi, dingin, dan panas.”
“kalo pakai sweater saja, nak lui pasti masih terasa kedinginan. Bukannya di korea sekarang lagi sedang musim salju?”
“....” aku pun terdiam sambil berpikir. Akhirnya aku coba browsing dan mencari tahu sedang musim apa sekarang di korea. Aku tersenyum ketika membaca dan mendapatkan informasi, ternyata benar sekarang di korea sedang musim dingin. Cepat-cepat ku sembunyikan senyum itu.
“... mbok ani bener, tau dari mana kalo sekarang di korea lagi musim salju?” tanya ku sambil mengeluarkan mantel tebal dari dalam lemari.
“ya tau saja... ini mbok ani sudah masukkan beberapa mantel biar bisa ganti-ganti. Yang satu ini punya almarhum ibu nak lui. Nak lui pasti suka memakainya.”
Kami berdua kembali terdiam, aku menelan ludah ku sendiri menahan sesuatu yang berat ketika mendengar kata-kata mbok ani.
“terima kasih.”
“iya iya... hehehe... kemaren mbok juga buka internet makanya mbok tau kalo sekarang korea lagi musim salju. Minta di ajarin sama tetangga sebelah cara buka internet.”
“terima kasih.” Ucapku lagi
“nak lui...?” tanya mbok ani
“besok berangkat jam berapa?”
“dari rumah jam 8. Naik pesawat jam 9.” Jawabku seperlunya
“ohhh... nak Lui?” tanya nya lagi, aku menatapnya lagi menunggu pertanyaan apa lagi yang akan ia katakan.
“mmm... apa nak Lui akan kembali ke Indonesia?”
“Saya tidak tahu. Gimana nanti saja.”
“Mbok pasti akan kangen sekali sama nak Lui. Nanti jangan lupa sama mbok ya...”
“Mana mungkin saya lupa sama mbok.” Ucapku kembali sibuk dengan aktivitas lain.
“............................”
Terdengar sesungguk dari arah mbok Ani aku pun menoleh ke arahnya, namun mbok ani terlihat menyembunyikannya dan kembali melipat pakaianku. Aku beranjak dari tempat aku duduk dan mengambil kotak tisu dari meja lalu menyodorkannya pada mbok ani.
“..... terima kasih nak Lui.”
“mbok kenapa nangis?” tanya ku sambil meletakkan kotak tissu di depan mbok ani. Dan membereskan barang-barang lain yang akan dibawa.
“mbok nangis bahagia dan bangga karena nak Lui akhirnya bisa mencapai apa yang nak Lui inginkan selama beberapa tahun ini. Nak Lui itu pinter sekali sampai bisa sekolah keluar negeri, keponakan mbok sekolah di sini saja haduuuhhh ... sudah susah apa lagi ke luar negeri. “
“hanya gara-gara itu mbok nangis?” tanya ku lagi.
“iya maafin mbok ya, mbok memang sedikit cengeng. Maaf jadi ngerepotin nak Lui. Tissu nya nak lui jadi habis sama mbok.“
“di laci masih banyak..”
“..............”
“nak lui... mbok minta maaf, mbok tadi bohong sama nak lui, sebenernya mbok sedih karena nak Lui akan pergi jauh sekali. Rumah ini pasti akan sepi sekali. Dan mbok akan rindu sekali sama nak lui...”
“Ada saya di sini pun, rumah ini memang sudah sepi..”
“..... mbok ga usah berlebihan, sekarang udah zaman teknologi. Katanya udah bisa pake internet. Ada handphone juga. Kalo ada sesuatu bisa komunikasi lewat internet atau handphone.”
“ohh... yang nama fesbuk sama tuiter itu ya? Iya deh ntar mbok minta ajarin lagi sama tetangga sebelah cara pake fesbuk.”
“pake email aja mbok. Kalo sempet nanti saya balas, pesan dari mbok.” Jawabku datar.
“oh gitu ya... email ya namanya.” Ucap mbok ani, kepalanya sambil naik turun berusaha mengingat kata.
“hmm.. perlu tissu lagi?”
“ohh ndak usah, mbok udah ga terlalu sedih lagi.”
“semuanya sudah beres... apa ada lagi yang belum nak lui?” tanya mbok ani
“saya rasa juga sudah.“ jawab ku
“kalo begitu mbok permisi dulu. Kalo ada apa apa panggil saya saja..” kata mbok ani sambil menutup pintu kamar.
“terima kasih.” Kata itu terucap dari bibir ku tapi tak sempat terdengar oleh mbok ani yang sudah keburu menutup pintu dengan rapat.
....
“kembali kasih nak Lui. Mbok denger ko...” ucap wanita tua itu dalam hati dari balik pintu sambil tersenyum kemudian pergi dari situ dengan terburu-buru menuruni tangga.
Chapter 6
Setahun kemudian.
Aku telah mendapat kan formulir beasiswa dan segera mengisi formulir tersebut secara online, ini masih langkah awal. Masih ada lagi langkah-langkah berikutnya. Aku sudah mempersiapkan semuanya dari beberapa bulan yang lalu, mengikuti tes toefl bahasa inggris dan korea. Dan semua yang kulakukan tidak sia-sia. Kursus bahasa korea mengantarku mendapatkan sertifikat dengan score yang memenuhi persyaratan beasiswa dan menyatakan bahwa aku lulus serta mampu berkomunikasi dalam bahasa korea. Dengan di bantu guru kursus aku menjadi mudah dalam memperoleh informasi-informasi tentang beasiswa hingga akhirnya surat itu datang dan mengabarkan bahwa aku di terima di universitas ‘서_’.
“감사합니다, 선셍님!”1
“정말 감사합니다. 제가, 아주 기뻐요. 한국 말 어려워지만 재밌었어요. 고맢다, 샘!”2 ucapku sambil membungkuk dan menundukkan kepala. Di korea semakin bungkuk tubuh, maka semakin menghormati orang di hadapan kita. Akhirnya minggu depan aku akan segera berangkat ke korea.
Ayah menerima surat itu dari tanganku dan membacanya dengan teliti, kepala nya naik turun.
“Baiklah, kamu telah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Setelah menyelesaikan kuliah disana apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”
“entahlah, mungkin saya akan mencari pekerjaan di sana.”
“saya masih akan berpikir. Aku mengambil jurusan management di universitas itu.”
“apa kamu tidak berniat untuk kembali ke Indonesia?”
“saya belum tahu. “
“ayah berharap kamu akan bisa melanjutkan perusahaan ayah. Ayah akan senang”
“saya tidak mau.”
“mengapa?”
“....” aku hanya terdiam saja.
“baiklah, ayah tidak akan memaksa. Jika tidak bisa, tidak apa-apa. Mungkin kamu akan bisa membangun perusahaan lain.”
“....”
“ya.... baik.. baik, ayah sangat senang mendengar kabar ini. Kamu sangat pandai.“
“Ibu mu pasti sangat bangga!”
“kalo begitu persiapkanlah segalanya dengan baik, jika ada apa-apa kabari ayah. Ayah akan ke ruangan kerja ayah dulu kemudian beristirahat. Kamu juga istirahat yang cukup, jaga kesehatan mu juga.” Kata ayah sambil meninggalkan ku sendiri di ruangan itu, ia menuju ruangan kerjanya. Akupun beranjak menuju kamar untuk beristirahat.
Pria setengah baya itu duduk termangu, tangannya luntai di meja kerjanya. Matanya yang sebelumnya fokus kedepan kini melihat ke sebuah bingkai foto yang selalu dan senantiasa menemaninya ketika ia bekerja di ruangan itu. Ia memegangi foto itu, senyum itu tidak pernah hilang. Ia tersenyum melihat foto istrinya itu, tapi kemudian tangannya gemetar dan air mata mengalir dari matanya.
“maafkan aku, aku tidak bisa menjadi ayah yang baik.”
“ia sungguh anak yang luar biasa. Kau tahu, ia telah mencapai apa yang di inginkan nya. Ia anak yang pekerja keras seperti mu. Maafkan aku, aku pasti telah mengecewakan mu. Bahkan ia sama sekali tidak menyukai ku. Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi, aku tidak bisa melarangnya untuk melakukan apa yang ia kehendaki.”
“.... aku menyayangi nya. Aku tidak tahu lagi bagaimana jadinya rumah ini tanpa dia. Sikapnya yang dingin namun sebenarnya hangat. Seandainya kamu tidak pergi, sayang itu pasti ada.”
“............” ia menangis dan sendirian di tempat itu, sambil memeluk erat foto itu ia tertidur di tempat itu.
Seseorang mengetuk pintu ruangan itu, namun tak ada yang menyaut. Orang itu pun membuka pintu dengan sangat pelan dan mencari pemilik ruangan itu. Ia menemukannya yang tengah tertidur sambil mengenggam sesuatu. Wanita tua itu terharu dan air matanya pun menetes begitu saja, melihat keadaan yang terjadi dirumah ini. Ia tahu benar bagaimana perasaan pria setengah baya yang dilihatnya kini. Ia pun segera mengusap air matanya dan segera keluar ruangan untuk mengambilkan selimut kemudian menyelimutinya.
Keesokan harinya -
“mbok apa lui ada di kamarnya?”
“saya ndak tahu pa. Nak Lui kan tidak pernah pamit kalo mau keluar rumah. Mungkin masih ada di dalam kamarnya. Kalo begitu saya susul ke kamarnya saja ya pa.”
“tidak usah mbok, saya saja yang liat ada yang mau saya sampaikan sama dia.”
“ya pak.”
Pria tengah baya itu pun menaiki anak tangga dan menghampiri kamar lui. Ia pun menarik nafasnya dan menghembuskannya pelan sebelum mengetok pintu kamar lui.
“Lui...? apa kamu ada di kamar? “
“Ayah mau bicara sebentar... Lui?”, tanpa sengaja ia membuka kamar yang tidak di kunci itu.
“Lui?? Apa ayah boleh masuk?” ia pun mengintip dari celah pintu melihat ke dalam, namun tak ada sautan dari dalam. Tampaknya Lui sedang tidak ada di dalam kamarnya. Pria itu memasuki kamarnya dan melihat keadaan kamarnya yang cukup tertata rapih itu. Isi kamarnya cukup lengkap dan sangat nyaman. Pantas saja jika Lui betah berlama-lama berada di dalam kamarnya ini. Kebutuhan udara dan cahaya matahari pun sangat tercukupi di ruangan ini. Ia melihat beberapa koper yang telah disiapkan Lui untuk keberangkatannya. Ketika di cek ternyata koper-koper itu masih kosong. Ia membaca tulisan-tulisan yang di tuliskan oleh Lui di board berisi notes reminder dan list kegiatan yang ia lakukan. Dari pemutar DVD sampai televisi flat sedang tersimpan disitu dengan sangat rapih dan apik. Hanya saja piano digital berukuran sedang yang terlihat tidak pernah terpakai lagi padahal masih bisa di gunakan. Ia pun menghampiri meja belajar Lui yang cukup penuh dengan buku dan kertas yang tersusun.
Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah foto yang sudah agak lusuh tertempel di paling sisi meja belajar bahkan hampir tidak tertangkap oleh mata. Ia pun harus membungkukan tubuhnya untuk dapat melihat dengan jelas foto itu. Foto seorang anak laki-laki kecil dengan tanduk merah yang sengaja di coret dan di warnai dengan spidol berwarna merah. Ia masih ingat, orang foto ini adalah teman Lui semasa kecil yang sering di panggil bakung. Tak ada foto lain, bahkan foto lui sendiri tidak ada. Ia pun duduk di atas tempat tidur Lui yang sangat nyaman, angin dari jendela lebar itu membuatnya mengantuk, tanpa sadar tertidur di situ.
“kringgg.. kringgg..” suara alarm jam berbunyi, ia pun terbangun dari tidurnya. Sekarang pukul 5 sore. Ternyata Lui telah mengatur alarm pada jam itu. Ia pun segera mematikan alarm itu kemudian beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar Lui. Tanpa sengaja Lui dan Ayahnya bertemu di anak tangga.
Aku telah mendapat kan formulir beasiswa dan segera mengisi formulir tersebut secara online, ini masih langkah awal. Masih ada lagi langkah-langkah berikutnya. Aku sudah mempersiapkan semuanya dari beberapa bulan yang lalu, mengikuti tes toefl bahasa inggris dan korea. Dan semua yang kulakukan tidak sia-sia. Kursus bahasa korea mengantarku mendapatkan sertifikat dengan score yang memenuhi persyaratan beasiswa dan menyatakan bahwa aku lulus serta mampu berkomunikasi dalam bahasa korea. Dengan di bantu guru kursus aku menjadi mudah dalam memperoleh informasi-informasi tentang beasiswa hingga akhirnya surat itu datang dan mengabarkan bahwa aku di terima di universitas ‘서_’.
“감사합니다, 선셍님!”1
“정말 감사합니다. 제가, 아주 기뻐요. 한국 말 어려워지만 재밌었어요. 고맢다, 샘!”2 ucapku sambil membungkuk dan menundukkan kepala. Di korea semakin bungkuk tubuh, maka semakin menghormati orang di hadapan kita. Akhirnya minggu depan aku akan segera berangkat ke korea.
Ayah menerima surat itu dari tanganku dan membacanya dengan teliti, kepala nya naik turun.
“Baiklah, kamu telah mendapatkan apa yang kamu inginkan. Setelah menyelesaikan kuliah disana apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?”
“entahlah, mungkin saya akan mencari pekerjaan di sana.”
“saya masih akan berpikir. Aku mengambil jurusan management di universitas itu.”
“apa kamu tidak berniat untuk kembali ke Indonesia?”
“saya belum tahu. “
“ayah berharap kamu akan bisa melanjutkan perusahaan ayah. Ayah akan senang”
“saya tidak mau.”
“mengapa?”
“....” aku hanya terdiam saja.
“baiklah, ayah tidak akan memaksa. Jika tidak bisa, tidak apa-apa. Mungkin kamu akan bisa membangun perusahaan lain.”
“....”
“ya.... baik.. baik, ayah sangat senang mendengar kabar ini. Kamu sangat pandai.“
“Ibu mu pasti sangat bangga!”
“kalo begitu persiapkanlah segalanya dengan baik, jika ada apa-apa kabari ayah. Ayah akan ke ruangan kerja ayah dulu kemudian beristirahat. Kamu juga istirahat yang cukup, jaga kesehatan mu juga.” Kata ayah sambil meninggalkan ku sendiri di ruangan itu, ia menuju ruangan kerjanya. Akupun beranjak menuju kamar untuk beristirahat.
Pria setengah baya itu duduk termangu, tangannya luntai di meja kerjanya. Matanya yang sebelumnya fokus kedepan kini melihat ke sebuah bingkai foto yang selalu dan senantiasa menemaninya ketika ia bekerja di ruangan itu. Ia memegangi foto itu, senyum itu tidak pernah hilang. Ia tersenyum melihat foto istrinya itu, tapi kemudian tangannya gemetar dan air mata mengalir dari matanya.
“maafkan aku, aku tidak bisa menjadi ayah yang baik.”
“ia sungguh anak yang luar biasa. Kau tahu, ia telah mencapai apa yang di inginkan nya. Ia anak yang pekerja keras seperti mu. Maafkan aku, aku pasti telah mengecewakan mu. Bahkan ia sama sekali tidak menyukai ku. Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi, aku tidak bisa melarangnya untuk melakukan apa yang ia kehendaki.”
“.... aku menyayangi nya. Aku tidak tahu lagi bagaimana jadinya rumah ini tanpa dia. Sikapnya yang dingin namun sebenarnya hangat. Seandainya kamu tidak pergi, sayang itu pasti ada.”
“............” ia menangis dan sendirian di tempat itu, sambil memeluk erat foto itu ia tertidur di tempat itu.
Seseorang mengetuk pintu ruangan itu, namun tak ada yang menyaut. Orang itu pun membuka pintu dengan sangat pelan dan mencari pemilik ruangan itu. Ia menemukannya yang tengah tertidur sambil mengenggam sesuatu. Wanita tua itu terharu dan air matanya pun menetes begitu saja, melihat keadaan yang terjadi dirumah ini. Ia tahu benar bagaimana perasaan pria setengah baya yang dilihatnya kini. Ia pun segera mengusap air matanya dan segera keluar ruangan untuk mengambilkan selimut kemudian menyelimutinya.
Keesokan harinya -
“mbok apa lui ada di kamarnya?”
“saya ndak tahu pa. Nak Lui kan tidak pernah pamit kalo mau keluar rumah. Mungkin masih ada di dalam kamarnya. Kalo begitu saya susul ke kamarnya saja ya pa.”
“tidak usah mbok, saya saja yang liat ada yang mau saya sampaikan sama dia.”
“ya pak.”
Pria tengah baya itu pun menaiki anak tangga dan menghampiri kamar lui. Ia pun menarik nafasnya dan menghembuskannya pelan sebelum mengetok pintu kamar lui.
“Lui...? apa kamu ada di kamar? “
“Ayah mau bicara sebentar... Lui?”, tanpa sengaja ia membuka kamar yang tidak di kunci itu.
“Lui?? Apa ayah boleh masuk?” ia pun mengintip dari celah pintu melihat ke dalam, namun tak ada sautan dari dalam. Tampaknya Lui sedang tidak ada di dalam kamarnya. Pria itu memasuki kamarnya dan melihat keadaan kamarnya yang cukup tertata rapih itu. Isi kamarnya cukup lengkap dan sangat nyaman. Pantas saja jika Lui betah berlama-lama berada di dalam kamarnya ini. Kebutuhan udara dan cahaya matahari pun sangat tercukupi di ruangan ini. Ia melihat beberapa koper yang telah disiapkan Lui untuk keberangkatannya. Ketika di cek ternyata koper-koper itu masih kosong. Ia membaca tulisan-tulisan yang di tuliskan oleh Lui di board berisi notes reminder dan list kegiatan yang ia lakukan. Dari pemutar DVD sampai televisi flat sedang tersimpan disitu dengan sangat rapih dan apik. Hanya saja piano digital berukuran sedang yang terlihat tidak pernah terpakai lagi padahal masih bisa di gunakan. Ia pun menghampiri meja belajar Lui yang cukup penuh dengan buku dan kertas yang tersusun.
Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah foto yang sudah agak lusuh tertempel di paling sisi meja belajar bahkan hampir tidak tertangkap oleh mata. Ia pun harus membungkukan tubuhnya untuk dapat melihat dengan jelas foto itu. Foto seorang anak laki-laki kecil dengan tanduk merah yang sengaja di coret dan di warnai dengan spidol berwarna merah. Ia masih ingat, orang foto ini adalah teman Lui semasa kecil yang sering di panggil bakung. Tak ada foto lain, bahkan foto lui sendiri tidak ada. Ia pun duduk di atas tempat tidur Lui yang sangat nyaman, angin dari jendela lebar itu membuatnya mengantuk, tanpa sadar tertidur di situ.
“kringgg.. kringgg..” suara alarm jam berbunyi, ia pun terbangun dari tidurnya. Sekarang pukul 5 sore. Ternyata Lui telah mengatur alarm pada jam itu. Ia pun segera mematikan alarm itu kemudian beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar Lui. Tanpa sengaja Lui dan Ayahnya bertemu di anak tangga.
Chapter 5
Sekarang aku sudah menduduki bangku kelas 3 SMA. Apa yang akan menjadi harapanku akan semakin dekat. Dan kursus pun masih terus ku tempuh. Sore itu aku baru kembali dari tempat kursus. Ayahku tengah bersantai di ruang depan dengan ditemani secangkir kopi kesukaannya. Seperti biasa aku tidak mengucapkan sepatah salam ketika aku memasuki rumah.
“Lui, apa kamu baru datang dari kursus?”
“...”, aku hanya mengangguk
“Apa kamu tidak membutuhkan les-les lain untuk mata pelajaran disekolah mu?” tanya ayah
“Tidak perlu. Aku masih bisa mengikuti pelajaran dengan cukup baik.”
“Baiklah, ayah mengerti.”
“Apa kamu tidak merasa lelah karena belajar terlalu keras? Pergi lah untuk refreshing ketempat lain yang kamu sukai, dan lakukanlah apa yang dilakukan oleh anak-anak seusia mu. Berbelanja di mall atau menonton di bioskop. Lui..?”
“Saya tidak suka.” Jawab ku dan langsung menuju kamar
......................................
“Lui, apa kamu baru datang dari kursus?”
“...”, aku hanya mengangguk
“Apa kamu tidak membutuhkan les-les lain untuk mata pelajaran disekolah mu?” tanya ayah
“Tidak perlu. Aku masih bisa mengikuti pelajaran dengan cukup baik.”
“Baiklah, ayah mengerti.”
“Apa kamu tidak merasa lelah karena belajar terlalu keras? Pergi lah untuk refreshing ketempat lain yang kamu sukai, dan lakukanlah apa yang dilakukan oleh anak-anak seusia mu. Berbelanja di mall atau menonton di bioskop. Lui..?”
“Saya tidak suka.” Jawab ku dan langsung menuju kamar
......................................
Chapter 4
Hari ini hari libur sekolah, aku sudah merencanakan untuk pergi ke toko DVD film untuk membeli beberapa film korea, mungkin ini akan sangat membantu. Setelah menemukan beberapa akupun membelinya dan menontonnya di kamarku. Tadinya aku sengaja untuk tidak menggunakan subtitle bahasa, tetapi ternyata begitu sulit untuk memahami alur cerita akhirnya akupun menggunakan subtitle bahasa. Ya, ternyata cukup membantu.
Awalnya aku hanya membeli film-film korea yang akhir cerita nya langsung berakhir dalam satu episode, tetapi lama kelamaan aku mulai membeli drama serial korea dengan beberapa episode. Tanpa aku sadari aku menjadi pengkoleksi film-film korea.
“종아 해 요!”1
Disekolah guru membagikan surat undangan pertemuan orang tua yang akan dilaksanakan hari lusa. Aku pun menyimpannya dalam tas sampai hari pertemuan itu tiba. Di hari pertemuan itu aktivitas belajar mengajar kelas 2 hanya di lakukan selama beberapa jam saja, pukul 10.00 siswa dan siswi di bubarkan karena ruangan akan di gunakan untuk pertemuan dengan orang tua.
Aku pun menuju toko dvd dan langsung menuju tempat kursus. Setelah hari demi hari yang aku lewati aku mulai menikmati aktivitas kursus yang kujalani. Hari ini cukup menyenangkan, aku sudah cukup baik dalam membaca teks tulisan hangeul. Sambil membawa film korea baru aku memasuki halaman rumah. Dari depan pintu aku mendengar ayah yang baru saja selesai bertelepon. Dengan langkah ringan aku pun memasuki rumah tanpa mengucap kan sepatah salam.
“Lui!” panggil ayah tiriku. Langkahku pun terhenti, aku tak berniat menoleh dan melihat wajahnya.
“kenapa kamu tidak memberi tahu ayah kalau hari ini ada pertemuan orang tua di sekolah mu?”
“saya lupa..” ucapku yang jelas-jelas berbohong
“ayah tahu kamu sedang tidak mengatakan yang sebenarnya, kenapa kamu bersikap seperti ini?”, ucapan nya membuatku menoleh ke arahnya.
“saya pikir ayah akan sibuk dan tidak akan sempat menghadiri pertemuan itu..” jawabku dengan raut wajah datar.
“sekali lagi kamu sendiri yang membuat alasan itu. Bagaimana kamu bisa tahu ayah sibuk jika kamu tidak pernah bertanya apa hari ini ayah sibuk atau tidak, sekalipun ayah sibuk ayah akan mengusahakan untuk datang ke pertemuan itu.” Kata ayah yang mulai meninggikan suaranya.
“cukup melihat saja, tidak perlu bertanya. Lagipula pertemuan itu tidak begitu penting.”
“melihat saja tidak cukup. Ketika kamu belajar dan menemukan kesulitan, apa dengan melihat saja kamu sudah dapat memecahkan masalah itu? Tidak, paling tidak kamu harus bertanya. Lui, bagaimana kamu bisa mengatakan bahwa pertemuan itu tidak begitu penting? Baru saja guru mu menelepon ayah dan menjelaskan secara singkat apa isi dari pertemuan tadi siang. Guru mu mengatakan tentang informasi penting akademik untuk kenaikan dan kelulusan. Kamu pikir itu tidak penting? Sebenarnya apa yang kamu pikirkan?” tanya ayah yang tampak menahan emosinya. Aku hanya bisa menutup mata dan berharap pembicaraan ini segera berakhir. Aku pun meninggalkan tempat itu menuju kamar.
“Lui, ayah belum selesai bicara. Mengapa kamu bersikap seperti ini pada ayah? Lui!”
Sekali lagi ku hentikan langkahku di anak tangga dan menoleh kearahnya, kami berdua saling bertatapan.
“Kau bukan ayahku!” ucap ku dalam hati.
Lalu aku benar-benar meninggalkan tempat itu, memasuki dan menutup pintu kamar dari dalam kemudian ku hempaskan tubuhku ke atas tempat tidur, tanpa tersadar aku tertidur.
Hari itu hanya ada aku dan ayahku di dalam ruangan kerja ayah. Ini kedua kalinya aku masuk ke ruangan kerja ayah. Pertama, ketika ibu masih hidup. Ibu yang mengajakku masuk ke ruangan ini, tetapi semenjak ibu tidak ada aku memang menjauhi segala hal yang kurasa bukan lagi menjadi zona untuk ku. Tempat ini tidak banyak berubah.
Kami tengah membicarakan suatu hal. Aku telah menerima hasil penilaian akademik selama 2 semester dalam bentuk raport. Di meja kerjanya terdapat beberapa berkas dan buku dengan alat tulis yang tertata rapih, raport nilai yang sekarang ada di hadapannya dan sebuah bingkai foto ibu disitu, selain itu ada lagi beberapa foto ibu di lemari buku dan yang tergantung di dinding. Aku tak menemukan foto ibu yang sedang bersama ayah tiriku atau yang sedang bersama ku, hanya ibu sendiri.
Mungkin ini yang ke sekian belas kalinya ayah membolak balikkan kertas yang bertuliskan nilai nilai yang kuperoleh. Sesekali decak bibirnya terdengar begitu jelas ketika melihat angka dan tulisan disitu.
“Lui, melihat hal ini apa yang kamu rasakan sekarang?” tanya ayah.
“...” aku tidak menjawabnya. Hanya melihat wajahnya sebentar kemudian memalingkan pandangan ke arah lain.
“ayah hanya ingin mengetahui perasaanmu? Katakan dengan jujur.”
“biasa saja.” Jawabku dingin. Ayah memicingkan matanya.
“wajar saja, gurumu mengatakan kamu terlalu dingin dan tidak pandai bergaul dan berorganisasi. Kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan?”
“aku tidak peduli, yang jelas saya sudah belajar dan melakukan tugasku sebagai pelajar. Mereka bebas mengatakan apa saja.”
“...,” ia menatapku ketika aku mengucapkan perkataan tadi.
“ ...,baiklah. Guru mu bilang seharusnya kamu mampu mendapat peringkat pertama, tetapi karena sikap mu yang tidak bersosialisasi dan bergaul bahkan kamu dianggap terlalu ... ehmm.. membuatmu menjadi peringkat 3. Mengapa kamu tidak mau bergaul dengan teman-temanmu?”
“saya bergaul dengan teman-teman dikelas, hanya saja tidak banyak bicara. Itu saja.”
“benarkah? Pintar saja tidak cukup, Lui. Kamu harus lebih sering berbicara dan bergaul. Lebih baik lagi jika kamu bergabung ke dalam organisasi atau mungkin komunitas-komunitas positif...................................................................”
Aku tidak begitu memperhatikan ucapan ayah, mataku terus saja menatap foto ibu di lemari buku ayah, ibu engkau masih terlalu muda untuk meninggalkan aku. Sementara ayah terus saja berbicara sambil membuka buka lembaran kertas raport ku, entah apa yang ia bicarakan. Pikiran ku mulai tak karuan, aku pun beranjak meninggalkan ruangan itu dengan langkah berat. Ayah menghentikan kata-katanya dan menatap kepergianku begitu saja.
Awalnya aku hanya membeli film-film korea yang akhir cerita nya langsung berakhir dalam satu episode, tetapi lama kelamaan aku mulai membeli drama serial korea dengan beberapa episode. Tanpa aku sadari aku menjadi pengkoleksi film-film korea.
“종아 해 요!”1
Disekolah guru membagikan surat undangan pertemuan orang tua yang akan dilaksanakan hari lusa. Aku pun menyimpannya dalam tas sampai hari pertemuan itu tiba. Di hari pertemuan itu aktivitas belajar mengajar kelas 2 hanya di lakukan selama beberapa jam saja, pukul 10.00 siswa dan siswi di bubarkan karena ruangan akan di gunakan untuk pertemuan dengan orang tua.
Aku pun menuju toko dvd dan langsung menuju tempat kursus. Setelah hari demi hari yang aku lewati aku mulai menikmati aktivitas kursus yang kujalani. Hari ini cukup menyenangkan, aku sudah cukup baik dalam membaca teks tulisan hangeul. Sambil membawa film korea baru aku memasuki halaman rumah. Dari depan pintu aku mendengar ayah yang baru saja selesai bertelepon. Dengan langkah ringan aku pun memasuki rumah tanpa mengucap kan sepatah salam.
“Lui!” panggil ayah tiriku. Langkahku pun terhenti, aku tak berniat menoleh dan melihat wajahnya.
“kenapa kamu tidak memberi tahu ayah kalau hari ini ada pertemuan orang tua di sekolah mu?”
“saya lupa..” ucapku yang jelas-jelas berbohong
“ayah tahu kamu sedang tidak mengatakan yang sebenarnya, kenapa kamu bersikap seperti ini?”, ucapan nya membuatku menoleh ke arahnya.
“saya pikir ayah akan sibuk dan tidak akan sempat menghadiri pertemuan itu..” jawabku dengan raut wajah datar.
“sekali lagi kamu sendiri yang membuat alasan itu. Bagaimana kamu bisa tahu ayah sibuk jika kamu tidak pernah bertanya apa hari ini ayah sibuk atau tidak, sekalipun ayah sibuk ayah akan mengusahakan untuk datang ke pertemuan itu.” Kata ayah yang mulai meninggikan suaranya.
“cukup melihat saja, tidak perlu bertanya. Lagipula pertemuan itu tidak begitu penting.”
“melihat saja tidak cukup. Ketika kamu belajar dan menemukan kesulitan, apa dengan melihat saja kamu sudah dapat memecahkan masalah itu? Tidak, paling tidak kamu harus bertanya. Lui, bagaimana kamu bisa mengatakan bahwa pertemuan itu tidak begitu penting? Baru saja guru mu menelepon ayah dan menjelaskan secara singkat apa isi dari pertemuan tadi siang. Guru mu mengatakan tentang informasi penting akademik untuk kenaikan dan kelulusan. Kamu pikir itu tidak penting? Sebenarnya apa yang kamu pikirkan?” tanya ayah yang tampak menahan emosinya. Aku hanya bisa menutup mata dan berharap pembicaraan ini segera berakhir. Aku pun meninggalkan tempat itu menuju kamar.
“Lui, ayah belum selesai bicara. Mengapa kamu bersikap seperti ini pada ayah? Lui!”
Sekali lagi ku hentikan langkahku di anak tangga dan menoleh kearahnya, kami berdua saling bertatapan.
“Kau bukan ayahku!” ucap ku dalam hati.
Lalu aku benar-benar meninggalkan tempat itu, memasuki dan menutup pintu kamar dari dalam kemudian ku hempaskan tubuhku ke atas tempat tidur, tanpa tersadar aku tertidur.
Hari itu hanya ada aku dan ayahku di dalam ruangan kerja ayah. Ini kedua kalinya aku masuk ke ruangan kerja ayah. Pertama, ketika ibu masih hidup. Ibu yang mengajakku masuk ke ruangan ini, tetapi semenjak ibu tidak ada aku memang menjauhi segala hal yang kurasa bukan lagi menjadi zona untuk ku. Tempat ini tidak banyak berubah.
Kami tengah membicarakan suatu hal. Aku telah menerima hasil penilaian akademik selama 2 semester dalam bentuk raport. Di meja kerjanya terdapat beberapa berkas dan buku dengan alat tulis yang tertata rapih, raport nilai yang sekarang ada di hadapannya dan sebuah bingkai foto ibu disitu, selain itu ada lagi beberapa foto ibu di lemari buku dan yang tergantung di dinding. Aku tak menemukan foto ibu yang sedang bersama ayah tiriku atau yang sedang bersama ku, hanya ibu sendiri.
Mungkin ini yang ke sekian belas kalinya ayah membolak balikkan kertas yang bertuliskan nilai nilai yang kuperoleh. Sesekali decak bibirnya terdengar begitu jelas ketika melihat angka dan tulisan disitu.
“Lui, melihat hal ini apa yang kamu rasakan sekarang?” tanya ayah.
“...” aku tidak menjawabnya. Hanya melihat wajahnya sebentar kemudian memalingkan pandangan ke arah lain.
“ayah hanya ingin mengetahui perasaanmu? Katakan dengan jujur.”
“biasa saja.” Jawabku dingin. Ayah memicingkan matanya.
“wajar saja, gurumu mengatakan kamu terlalu dingin dan tidak pandai bergaul dan berorganisasi. Kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan?”
“aku tidak peduli, yang jelas saya sudah belajar dan melakukan tugasku sebagai pelajar. Mereka bebas mengatakan apa saja.”
“...,” ia menatapku ketika aku mengucapkan perkataan tadi.
“ ...,baiklah. Guru mu bilang seharusnya kamu mampu mendapat peringkat pertama, tetapi karena sikap mu yang tidak bersosialisasi dan bergaul bahkan kamu dianggap terlalu ... ehmm.. membuatmu menjadi peringkat 3. Mengapa kamu tidak mau bergaul dengan teman-temanmu?”
“saya bergaul dengan teman-teman dikelas, hanya saja tidak banyak bicara. Itu saja.”
“benarkah? Pintar saja tidak cukup, Lui. Kamu harus lebih sering berbicara dan bergaul. Lebih baik lagi jika kamu bergabung ke dalam organisasi atau mungkin komunitas-komunitas positif...................................................................”
Aku tidak begitu memperhatikan ucapan ayah, mataku terus saja menatap foto ibu di lemari buku ayah, ibu engkau masih terlalu muda untuk meninggalkan aku. Sementara ayah terus saja berbicara sambil membuka buka lembaran kertas raport ku, entah apa yang ia bicarakan. Pikiran ku mulai tak karuan, aku pun beranjak meninggalkan ruangan itu dengan langkah berat. Ayah menghentikan kata-katanya dan menatap kepergianku begitu saja.
Chapter3
Hari ini adalah hari pertama aku kursus bahasa korea. Awal yang sangat sulit untuk memahami perkataan pengajar yang memang seorang native speaker. Di hari pertama aku mempelajari huruf-huruf korea dengan tulisan korea atau juga disebut ‘Hangeul’. Bentuk tulisannya aneh ada yang berbentuk kotak, lingkaran dan banyak bentuk aneh lainnya. Aku juga belajar mengucapkan perkataan dengan bahasa korea.
“안영하세요? 저는 루이예요. 인도내시아 사람 이 에 요.” 1
“감사합니다.”2
Ya kurang lebih seperti itu. Hari itu cukup membuat ku frustrasi dan harus lebih bekerja keras lagi untuk dapat mempelajari huruf-huruf hangeul. Akhirnya sesampainya dirumah dan sebelum beristirahat malam itu aku membuat jadwal kegiatan selama 1 minggu karena aktivitas ku bertambah satu dari sebelumnya. Esok hari masih ada banyak kegiatan, akupun segera beristirahat..
Hari kedua kursus bahasa korea, aku masih harus mengeja huruf untuk dapat mengucapkan sebuah kata. Banyak kata yang aku pelajari di pertemuan kedua ini. Oke, paling tidak aku sudah mengenal huruf-huruf hangeul meski belum begitu lancar dalam mengucapkannya. Aku harus belajar lebih semangat lagi. Ibu doakan aku. Akhirnya setelah kursus selesai, aku mampir ke toko buku untuk membeli buku kamus bahasa korea dan beberapa buku percakapan bahasa korea lainnya. Aku berharap ini bisa membantu. Hari yang cukup melelahkan dan aku masih harus mengerjakan tugas untuk esok hari...
Disekolah, seusai pelajaran seluruh murid dikelas ku beranjak pulang meninggalkan kelas. Saat itu kuputuskan untuk mengerjakan tugas matematika terlebih dulu di dalam kelas yang telah sepi. Masih ada waktu yang cukup lama sebelum aku pergi kursus. Tugas itu pun selesai kukerjakan, ku lihat jam tangan yang menunjukkan pukul 15.00 WIB sementara kursus dimulai pukul 16.00, aku pun beranjak dari bangku kelas menuju tempat kursus. Perjalanan menuju tempat kursus hanya memakan 15 menit lamanya, aku pun belajar membaca sederet huruf-huruf hangeul di sela-sela waktu. Saat itu aku menemukkan 1 kata yang tidak pernah lagi bisa aku pakai untuk memanggil seseorang.
“어 머 니”3
“엄 마”4
Hati ini terasa bergetar ketika menyadari betapa indahnya jika bisa menggunakan kata ibu dalam bahasa lain kepada ibu kandung kita sendiri, lain dengan diriku bahkan mungkin aku tidak dapat mengucapkan nya lagi.
“엄 마” ucapku dalam hati.
“Apa kau mendengarnya, ibu? Aku sedang memanggilmu ibu... 엄 마...” mata ku terasa panas, air mata membasahi bola mataku namun tidak sampai jatuh. Aku menahannya agar tidak jatuh. Aku melangkah menuju kamar kecil, dan menutup pintu itu rapat-rapat. Aku tidak mampu menahannya, tangisku pecah saat itu. Aku membungkuk dan menangis tanpa suara saat itu.
“엄 마........... ”
“사랑해...”5
........................................................
“안영하세요? 저는 루이예요. 인도내시아 사람 이 에 요.” 1
“감사합니다.”2
Ya kurang lebih seperti itu. Hari itu cukup membuat ku frustrasi dan harus lebih bekerja keras lagi untuk dapat mempelajari huruf-huruf hangeul. Akhirnya sesampainya dirumah dan sebelum beristirahat malam itu aku membuat jadwal kegiatan selama 1 minggu karena aktivitas ku bertambah satu dari sebelumnya. Esok hari masih ada banyak kegiatan, akupun segera beristirahat..
Hari kedua kursus bahasa korea, aku masih harus mengeja huruf untuk dapat mengucapkan sebuah kata. Banyak kata yang aku pelajari di pertemuan kedua ini. Oke, paling tidak aku sudah mengenal huruf-huruf hangeul meski belum begitu lancar dalam mengucapkannya. Aku harus belajar lebih semangat lagi. Ibu doakan aku. Akhirnya setelah kursus selesai, aku mampir ke toko buku untuk membeli buku kamus bahasa korea dan beberapa buku percakapan bahasa korea lainnya. Aku berharap ini bisa membantu. Hari yang cukup melelahkan dan aku masih harus mengerjakan tugas untuk esok hari...
Disekolah, seusai pelajaran seluruh murid dikelas ku beranjak pulang meninggalkan kelas. Saat itu kuputuskan untuk mengerjakan tugas matematika terlebih dulu di dalam kelas yang telah sepi. Masih ada waktu yang cukup lama sebelum aku pergi kursus. Tugas itu pun selesai kukerjakan, ku lihat jam tangan yang menunjukkan pukul 15.00 WIB sementara kursus dimulai pukul 16.00, aku pun beranjak dari bangku kelas menuju tempat kursus. Perjalanan menuju tempat kursus hanya memakan 15 menit lamanya, aku pun belajar membaca sederet huruf-huruf hangeul di sela-sela waktu. Saat itu aku menemukkan 1 kata yang tidak pernah lagi bisa aku pakai untuk memanggil seseorang.
“어 머 니”3
“엄 마”4
Hati ini terasa bergetar ketika menyadari betapa indahnya jika bisa menggunakan kata ibu dalam bahasa lain kepada ibu kandung kita sendiri, lain dengan diriku bahkan mungkin aku tidak dapat mengucapkan nya lagi.
“엄 마” ucapku dalam hati.
“Apa kau mendengarnya, ibu? Aku sedang memanggilmu ibu... 엄 마...” mata ku terasa panas, air mata membasahi bola mataku namun tidak sampai jatuh. Aku menahannya agar tidak jatuh. Aku melangkah menuju kamar kecil, dan menutup pintu itu rapat-rapat. Aku tidak mampu menahannya, tangisku pecah saat itu. Aku membungkuk dan menangis tanpa suara saat itu.
“엄 마........... ”
“사랑해...”5
........................................................
Subscribe to:
Comments (Atom)